Jumat, 25 Oktober 2013

“Begitulah kemuliaan duniawi akan mengepul musnah!” Demikian kata-kata yang bergema di Basilica sesaat sebelum Sri Paus diwisuda dan dimahkotai. Sambil memandang kepada sebongkok jerami yang dibakar sampai habis dan dalam sikap membungkuk berbaktinya tubuh Sri Paus, beliau diingatkan agar selalu menjaga hati dari silaunya beragam kenikmatan yang ditawarkan dunia.

Kehidupan kita pelan tetapi pasti semakin diwarnai oleh apa yang saya sebut sebagai blitz-culture. Sebagaimana kilatan cahaya blitz yang sangat sesaat, kebanyakan orang pun melaju begitu cepat dan terburu-buru menuju satu ‘titik’ yang dikejarnya hingga tidak sadar lagi apa saja yang sudah dilewatinya sepanjang perjalanan. ‘Titik’ ini bisa bermacam: ambisinya, obsesinya, dunia kerja atau bisnisnya, dan tentu masih banyak hal lainnya yang dapat kita daftarkan. Makanya, tak jarang kita menjumpai orang-orang yang (bisa-bisanya) berbusana ria a la haute couture di tengah kenyataan telanjang ada anak manusia yang masih bernyawa, tetapi hanya berbadan tulang-kulit sedang dikerumuni lalat di persada kita yang (katanya) berkelimpahan ini. Mengapa? Ya karena mereka tidak mau menyempatkan diri menengok ke kiri atau ke kanan atau sedikit merunduk, toh yang penting perjalanannya segera sampai pada ‘titik’ tujuan.

Mengapa mereka ingin sesegera mungkin sampai di ‘titik’ ini, rasanya tidak ada alasan yang lebih tepat selain persoalan antusiasme yang berlebih pada materi. Ya, materi. Inilah kekuatan sihir terbesar yang tak lekang ditelan zaman. Materi mengantarkan seseorang kepada kekayaan, sementara kekayaan itulah yang akan mengantarkannya kepada kekuasaan dan atau kemasyuran: (i) kekayaan akan membeli kekuasaan dan kekuasaan itu kelak akan mempermudah akses menuju bertambahnya kekayaan. Memang begitulah kenyataannya, bahwa kehidupan kita berjalan dalam hukum rimba. Usaha pameran kekuatan (show of force) makin menggila, meneror yang lemah agar menjadi semakin lemah dan akhirnya memilih mengundurkan diri dari kehidupan yang hanya dirasa getir. Atau kita harus yakin, bahwa pola relasi sosial kita bertolak dari asuransi bahwa manusia secara inheren dan kodrati tidak akan menjadi serigala bagi sesamanya. Bahwa Thomas Hobbes salah. Namun, terlalu naïf nampaknya jika kita berpikir demikian; (ii) kekayaan akan membeli kemasyuran dan kemasyuran (baca: pencitraan) dapat ‘diperdagangkan’ untuk menambah kekayaan. Hidup di zaman di mana konsumsi (entah secara sengaja atau tidak) telah dinobatkan sebagai sumber status, mau tidak mau membuat orang berpacu mempertontonkan ‘keborosan’ mereka. Makin boros, makin naik statusnya dan makin dihargai di tengah masyarakat sebagai si hebat yang telah memenangkan persaingan adu boros. Katanya jengah dengan feodalisme, tetapi nyatanya diam-diam ia tetap disimpan sebagai penyakit laten yang membuat orang menempatkan status derajat-pangkat lebih penting ketimbang peran.

C’est la vie, demikian kata orang Perancis. Sama sekali tidak ada yang salah kalau ingin membunyikan idiom itu di tengah kenyataan hidup yang kita alami. Namun, dengan dikumandangkannya frasa “inilah hidup” itu, banyak kita yang hidup di zaman ini seolah berpikir bahwa telah diabsahkannya sikap hidup yang bebas lalu-lalai tanpa memperhatikan sekeliling; diabsahkannya pandangan bahwa hanya dengan ‘menatap lurus’ ambisi dan obsesinya, bahwa hanya dengan membangkitkan ambisi dan obsesi tentang kecukupan (atau kelimpahan?) materi, manusia dapat membangun semangat dan kekuatannya dalam menghadapi tantangan. Jika tidak, ia akan menjadi manusia yang lemah, pemalas, dan mudah menyerah. Ah, rupanya menjadi manusia adalah suatu dalih, suatu excuse, untuk jadi lemah. Kelemahan yang sengaja digaungkan demi hasrat serakah akan materi. Lagi-lagi dengan legitimasi ungkapan “C’est la vie. Ya beginilah hidup. Hidup memang keras!”, yang kelamaan menjadi terasa klise.

Tentu hanya akan menjadi  “puritanisme ” berbau kemunafikan jika kita berkata materi itu tidak penting dan tidak perlu dicari. Hanya, seperti peringatan dari Yesus dari Nazareth, jangan sampai kita mengabdi kepadanya. Jangan sampai mata kita yang memang perlu menatap lurus kepada ‘titik’ yang ada di ujung jalan itu membuat kita terbius, seolah-olah tidak lagi butuh keberadaan yang lain dan tidak perlu menyempatkan diri menengok mereka yang berada di sekeliling kita. Jangan sampai dunia ini terasa semakin sesak hanya karena makin banyak bermunculan manusia yang –oleh Henry Nouwen– dikatakan berlimpah ‘interaksi’, akan tetapi krisis relasi. Sic transeat gloria mundi! Begitulah kemuliaan duniawi akan mengepul musnah. Biarlah kata-kata ini mengingatkan kita juga, bahwa masih ada sesuatu yang harus kita cari, lebih dari sesuatu yang bisa mengepul musnah itu. Selamat mencari dan menemukannya. Tuhan memberkati.
“Musim semi tanpa kicauan burung”, demikian tajuk yang disuarakan oleh Rachel Carson lewat Silent Spring (1962). Meski seolah sekadar mendeskripsikan suatu musim semi yang sunyi, ia sebenarnya secara dalam mengkritik manusia yang telah begitu tega meracuni alam dengan berbagai pestisida demi keuntungan pragmatis melipatkan hasil panen. Bak sambaran petir di siang hari, pesan-pesannya hadir di tengah sepinya gugatan waktu itu terhadap keangkuhan manusia yang selalu mencoba membentuk lanskap di sekitarnya, yang selalu berusaha memanipulasi sistem alami yang berjalan, semata demi kelipatan hasil. Bahkan ketika keprihatinan tentang keutuhan ciptaan belum bergema di komunitas keagaamaan, Rachel Carson sudah berani memulai ‘sendirian’ untuk menjadi corong bagi alam.

Apa yang dilakukan Carson mengarahkan pertanyaan kepada kita yang mengaku sebagai orang-orang beriman: mengapa kita harus memelihara alam ciptaan? Di sini saya tidak sedang mempertanyakan tentang sebuah ‘landasan’ agamawi, yang muaranya seringkali tidak akan jauh dari kisaran risalah-risalah dogmatis. Namun, bukan berarti saya anti dengan hal-hal yang dogmatis. Hanya, otoritas bahasa-bahasa dogmatis seringkali hadir sebagai kekuatan yang ‘memaksa’ pengikutnya untuk patuh; entah karena ia mengaku sebagai ‘hukum ilahi’ yang pantang dilanggar maupun karena ia hadir dan ingin menunjukkan kepada  manusia akan kodratnya sebagai yang harus patuh dan tunduk, tidak peduli manusia yang bersangkutan mau atau tidak, hatinya terpanggil atau tidak untuk mengikuti superioritas bahasa dogmatis tersebut. Oleh karena itu, saya di sini tidak ingin menanyakan soal ‘landasan’. Namun, saya lebih memilih menanyakan tentang ‘alasan’ yang lebih menampilkan otensitas manusia. ‘Alasan’ yang lahir dari kesadaran manusia akan alam yang telah menemaninya, menemani selama manusia itu sendiri mulai ada hingga kesudahannya.

Manusia boleh jadi tengah berkubang di dunia yang telah menjadi demikian sekuler, di mana keberadaan Sang Pencipta hanya sekadar menjadi ‘catatan kaki’ dalam orkestra kehidupan. Modernitas dengan segala bentuk optimismenya membuat kita menjadi asing dengan ungkapan-ungkapan semacam mysterium, tremendum, et fascinans terhadap Sang Pencipta. Bahwa Rudolf Otto telah dirasa berlebihan di zaman ini. Kita pun kini hanya berhubungan dengan Yang Nyata dan Tak Terbatas itu lewat hukum. Tuhan pun dapat dipaksakan ‘masuk’ dalam kerangka pemikiran modern yang determinis. Ia pun menjadi mudah ditebak karena hukuman dan pahala-Nya akhirnya pun dapat dikalkulasi. Singkatnya, ‘hukum Tuhan’ itu yang akhirnya justru menjadi tuhan (dengan ‘t’ untuk konotasi maknanya yang profan dan temporal). Makin surplus ayat seseorang, makin dianggap menguasai ‘hukum Tuhan’ dan dilihat sebagai yang paling saleh.

Gugatan di atas hanyalah ingin menunjukkan bagaimana Tuhan yang transpersona dan tak-terbatas itu telah ‘direduksi’ menjadi begitu persona dan determinis. Jika Tuhan saja mampu ‘dibegitukan’ oleh manusia, lalu apalagi dengan alam dan ciptaan lainnya yang faktual memang hampir mampu ‘dikendalikan’ oleh manusia. Manusia tidak akan mampu lagi melihat adanya inherent value yang ada dalam setiap ciptaan, bahwa masing-masing ciptaan mempunyai nilainya sendiri yang ada dalam dirinya. Alam dan ciptaan lainnya pun akhirnya dilhat hanya membawa bekal instrumental value dari Tuhan, yang mana manusia dapat berbuat apa saja terhadap mereka. Logika dominasi pun termanifestasikan dalam chauvinisme spesies, bahwa hanya manusia satu-satunya yang layak menyandang inherent value dalam dirinya.

Inherent value setiap ciptaan, terma yang rasanya memang masih asing di telinga kita. Namun, agaknya kita perlu meneladani para leluhur yang seringkali justru oleh manusia modern seperti kita ini dianggap kuno. Bagaimana para leluhur memandang air, misalnya, sebagai yang mampu menjembatani antara yang sakral dan profan, entah dalam rangka ‘memurnikan’ seseorang dari kecemaran, inisiasi dalam memasuki fase kehidupan baru, ataupun dalam memohon kesembuhan melalui ritual tertentu, seolah menampakkan secara tersirat bahwa mereka mampu melihat inherent value yang ada dalam setiap elemen alam. Ada penghargaan bahwa alam dan unsur-unsur di dalamnya tidaklah sekedar sarana, tetapi sebagai yang ‘hidup dan berperan’ karena inherent value-nya. Mampukah kita yang mengaku sebagai manusia modern yang mengaku lebih beradab ini meniru jejak para leluhur tersebut?

Lalu, apakah salah jika ‘alasan’ kita untuk memelihara alam karena alam telah menjadi sahabat bagi peradaban manusia sejak awal penciptaan? Pertanyaan ini menjebak karena cenderung akan mengarahkan kita pada jawaban “tidak ada yang salah”. Menurut saya, itu adalah ‘alasan’ yang salah. Seorang pujangga Lebanon, Kahlil Gibran, pernah mengatakan dengan nada menyindir bahwa “tidak ada persahabatan yang sejati, yang ada hanyalah kepentingan”. Jika kita mencintai alam karena dia adalah sahabat baik yang telah banyak memberi manfaat melimpah bagi kita, sama saja kita terjebak dalam melihat alam hanya sebagai yang memiliki instrumental value saja. Jadinya, tidak ada persahabatan sejati yang kita bangun dengan alam. Yang ada hanyalah kepentingan, persahabatan untuk nasib yang lebih baik, dan akhirnya kita tidak beranjak dari antroposentrisme yang laten tersebut. Bersahabat dengan alam tidaklah tepat jika dibangun dengan dasar bahwa alam tersebut berjasa bagi kita. Persahabatan itu haruslah dibangun karena alam adalah alam.

Mengapa kita semua yang mengaku sebagai orang yang beriman harus memelihara alam ciptaan? Sekali lagi pertanyaan ini diajukan dan semoga kita telah menemukan paling tidak sebuah ‘alasan’ sebagai jawabannya. Alasan yang menggerakkan kita untuk segera berbenah tanpa harus menunggu hasil ramalan akhir dari tapal batas riwayat alam ini. Berbenah tidak hanya dalam sikap, tetapi juga dalam kesadaran bahwa manusia hanyalah satu dari sekian banyak galur kehidupan yang ada. Dan semoga, tidak ada lagi silent spring karena alam ini akhirnya mau bersenandung dan bercengkerama lagi dengan kita.
Pada suatu hari, sekitar 500 tahun sebelum seorang yang begitu terkenal bernama Yesus dari Nazareth lahir, diceritakan ada sebuah bangsa yang besar pulang dari tanah pembuangan negeri Babilonia. Lebih dari setengah abad (± 586-520 sM) bangsa itu tinggal di sana. Generasi pun telah sebagian berganti dan kini hanya tinggal segelintir orang tua saja yang masih sanggup menyertai kepulangan para anak muda ke tanah yang konon disebut tanah Perjanjian antara nenek moyang mereka dengan Tuhan.

Seorang pemuda dari antara rombongan besar bangsa itu berkata kepada yang lain, “Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Sekian lama sudah kita hidup dalam keterasingan karena perbudakan dan penjajahan bangsa asing. Maka mulai saat ini, marilah kita menyambut kemerdekaan dan kehidupan baru yang penuh perjanjian di negeri yang dulu diberikan Tuhan kepada nenek moyang kita. Mari kita membangun bersama bangsa Israel ini agar kembali menjadi bangsa yang besar!” Demikian seorang pemuda itu menyuarakan gelora hatinya. Semua orang pun menyambutnya dengan sorak sorai dan gegap gempita penuh harapan.

Namun, gayung pun tak bersambut. Kebahagiaan dan harapan yang besar tadi hanya meninggalkan semaraknya yang hampa. Betapa sedih dan terpukulnya mereka seketika tiba di tanah air para nenek moyang, yaitu tanah Kanaan yang kini sudah berganti nama menjadi kerajaan Yehuda. Impian untuk memulai hidup sejahtera di negeri makmur sebelah barat Sungai Yordan itu pun sirna. Pasalnya, negeri ini berada dalam penguasaan kerajaan Persia, kerajaan tersohor penuh kekuatan sihir dan berlaksa tentara yang gagah. Kerajaan Persia ini hampir tak tersaingi di Asia Barat Daya Kuno, kecuali oleh kerajaan kuno nan metropolis dari daratan gurun sebelah selatan, Mesir. Pantas jika kini orang-orang Israel yang baru saja kembali dari pembuangan itu kehilangan asa untuk memulai kehidupan baru.

Rasa gusar bahkan marah karena getirnya hidup yang berkepanjangan pun mulai muncul. Apalagi, kini mereka juga harus menghadapi kenyataan ditolak oleh sebagian saudara-saudara mereka sendiri (tidak semua!), yaitu para keturunan orang Israel yang dulu tidak ikut diangkut ke tanah pembuangan oleh Panglima Babilonia nan bengis, Nebuzaradan. Selain karena kedua generasi yang terpisah ruang tersebut sudah tidak lagi saling mengenal, rombongan penduduk yang baru kembali dari Babilonia ini juga dianggap sudah cemar, tidak lagi ras murni umat pilihan Tuhan karena dicurigai sudah kawin-campur dengan penduduk lokal Babilonia.
Akhirnya, dalam beberapa waktu yang cukup lama kemudian, rombongan dari Babilonia ini hidup bak imigran di tanah air sendiri.  Mereka hanya bisa melongo melihat kecurangan orang-orang fasik yang terus menindas mereka. Dalam kemarahan karena penindasan yang tidak kunjung reda itu, mereka mulai mempertanyakan kepada Tuhan tentang keadilan, “Tuhan, sebenarnya siapa yang berhak mewarisi negeri, apakah orang benar atau orang fasik? Mereka, orang Persia dan saudara-saudara kami sendiri yang menolak kami… Mengapa Engkau biarkan mereka para orang fasik itu untuk menghunus pedang dan melentur busur mereka guna merobohkan orang-orang sengsara dan orang-orang miskin, untuk membunuh orang-orang yang hidup jujur?”

Di antara rombongan dari Babilonia itu, ada seorang tokoh masyarakat yang sudah tua. Ia bukan seorang ahli pikir pemerintahan dan tidak pula turut berkuasa. Orang tua itu hanyalah seorang yang dikenal sebagai pemazmur yang bijak. Tidak mengherankan jika akhirnya dia diidentikkan dengan Daud, raja kedua Bani Israel yang hidup beratus-ratus tahun sebelumnya. Sama seperti seorang kaum papa pada zaman sekarang yang prihatin karena menyaksikan anak-cucunya tidak tahan melihat orang main kuasa dan main uang di Jakarta, sang Pemazmur Tua ini kasihan melihat orang muda pada zamannya yang begitu sakit hati melihat ketidakadilan di dalam masyarakat. Akhirnya, pemazmur ini menulis pesan kepada para pemuda tersebut demikian:

“Jangan marah, jangan iri hati, tetapi bergembiralah dan yakinlah bahwa masa depan orang-orang yang berhasil karena tipu daya akan segera berakhir, sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Sesungguhnya, orang-orang yang diberkati-Nya akan mewarisi negeri, tetapi orang-orang yang dikutuki-Nya akan dilenyapkan. TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

Tentu kita akan tersentak mendengarnya. Ya, tidak boleh marah ataupun iri hati. Sama sekali! Namun, jika memang kita harus marah, ‘marahlah’ karena telah terusiknya keadilan dan kebenaran, bukan karena nasib buruk yang kita alami akibat kelakuan mereka yang fasik.

Pesan pemazmur ini masih dapat dibaca secara lengkap oleh kita yang hidup di zaman ini dalam Mazmur 37:1-40.