When the world was created, God made everything a little bit incomplete.
Rather than making bread grow out of the earth,
God made wheat grow so that we might bake it into bread.
Rather than making the earth of bricks,
God made it of clay so that we might bake the clay into bricks.
Why? So that we may become partners in completing the work of creation. -The Midrash
Rather than making bread grow out of the earth,
God made wheat grow so that we might bake it into bread.
Rather than making the earth of bricks,
God made it of clay so that we might bake the clay into bricks.
Why? So that we may become partners in completing the work of creation. -The Midrash
Promotheus diikat pada sebuah batu karena mencuri api dari dewa dan memberikannya kepada rakyat. Adam dan Hawa dikeluarkan dari Taman Eden karena makan buah dari Pohon Pengetahuan. Orang-orang Babilonia dikacaukan bahasanya dan diserakkan ke berbagai penjuru bumi karena berusaha membangun menara hingga mencapai langit demi meraih kemasyhuran. Cerita tersebut menjelaskan tentang adanya hukuman dan penderitaan yang harus ditanggung akibat keinginan untuk memiliki, mengetahui, dan mendapatkan pengakuan lebih dari yang melebihi kodratnya. Namun, muara dari beragam keinginan itu rasanya tak lebih dari satu hal: supaya memiliki kemampuan lebih untuk menguasai bahkan mengontrol sesuatu di luar dirinya, baik dalam pengertian dan motif positif ataupun negatif.
Kisah tentang orang-orang yang berhasrat lebih akan kemampuan, kekuasaan, dan kontrol bukan hanya tulisan atau cerita dari zaman kuno. Ia merupakan kenyataan yang terus menerus memergoki anak manusia dari zaman ke zaman setiap kali mereka membuka mata. Barangkali memang tidak pernah ada zaman di mana nalar dan naluri masyarakatnya imun dari pengaruh hasrat tersebut.
Sementara itu, harapan untuk terciptanya relasi antarmanusia yang saling melayani, tampaknya hanya menggantang asap. Panggilan untuk melayani diinterupsi hasrat untuk menguasai, semangat pengorbanan diabaikan dan diganti dengan kepentingan. Hasrat untuk menguasai seolah telah bermutasi menjadi virus yang menetap dalam sel-sel tubuh setiap manusia. Lama-kelamaan, virus itu bukan saja dianggap sebagai hal yang lumrah, tetapi juga dirayakan sebagai sesuatu yang tidak memalukan lagi. Perlombaan antar mereka yang kuat untuk saling menguasai kini pun menjadi semakin bebas dipertontonkan kepada mereka yang lemah. Tidak ada lagi yang tabu mengenai itu. Mereka yang lemah pun dipaksa sepakat bahwa adalah pantas-pantas saja kekuasaan itu dimutlakkan oleh mereka yang kuat ––yang punya banyak modal, banyak pengaruh, banyak pengikut, banyak ilmu (untuk mengakali).
Kita ambil contoh paling kasat mata: kaum bermodal vs kaum proletar.
Mungkin publik waktu itu merasa Karl Marx kurang sopan ketika dalam tulisan awalnya ia berbicara tentang uang sebagai “pelacur universal”. Menurutnya, uang tidak hanya mengizinkan pertukaran segala hal, tetapi juga menegasikan kandungan barang atau jasa dengan memberikan kepada mereka standar impersonal. Komodifikasi telah menjadikan sesuatu yang tak pantas berada di meja dagang menjadi sesuatu yang dicari-cari. Nilai dari apapun dapat dikonversi ke dalam bentuk nominal uang, termasuk manusia itu sendiri. Itulah barangkali mengapa Psychology and Collective Bargaining-nya Peter Warr hanya menjadi cemooh. Tajuk yang digemakan oleh sang psikolog sosial tentang pentingnya konsep psikologis guna melangsungkan hubungan fungsional yang harmonis antara buruh dan majikan, usang begitu lekas. Buruh dan karyawan hanyalah dinilai sebagai ‘sumber daya’ yang berwujud manusia, setara dengan ‘sumber daya’ dalam wujud yang lain, yang telah lunas dibeli dengan uang majikan.
Sejenak kita perlu merenungkan pesan dari Midrash di atas. Jauh sebelum seorang Alfred Whitehead meracik filsafat prosesnya maupun David Griffin memopulerkan konsep Sang Pencipta yang tidak supernatural, para rabbi Yahudi lebih dulu menebarkan ajaran tentang perlunya peran serta manusia dalam melengkapi karya penciptaan. Sang Penguasa itu tidak ingin mendominasi, tetapi justru merangkul kita sebagai rekan kerja, sebagai sama-sama pelaku yang menentukan. Ada nilai tersirat yang begitu kontras dengan fenomena lumrah zaman ini: majikan yang mengomodifikasi buruhnya, pemimpin yang mengindoktrinasi (jika tidak disebut mencuci-otak) pengikutnya, pemerintah yang meneror kebebasan beraspirasi rakyatnya, atau orang tua yang mendidik anaknya dengan menanamkan ketakutan daripada harapan.
Ketika yang surplus kuasa hanya menciptakan ketergantungan dari mereka yang lemah, ketika mayoritas-minoritas menentukan hierarkhi, ketika segelintir leisure class bisa dengan pongah menggariskan nasib kaum papa, pengertian kita tentang harkat dan martabat manusia pun menjadi berserpih-serpih. Jadi, akan Anda apakan kuasa yang sekarang Anda pegang itu? Pilihan pun bebas dijatuhkan: untuk menguasai dan menundukkan mereka yang berada ‘di bawah’ Anda atau justru untuk menjangkau dan merangkul mereka untuk bersama-sama dalam mencipta?
Hasrat untuk Menguasai (Sebuah Refleksi tentang Relasi Antarmanusia)