Jumat, 25 Oktober 2013

Pada suatu hari, sekitar 500 tahun sebelum seorang yang begitu terkenal bernama Yesus dari Nazareth lahir, diceritakan ada sebuah bangsa yang besar pulang dari tanah pembuangan negeri Babilonia. Lebih dari setengah abad (± 586-520 sM) bangsa itu tinggal di sana. Generasi pun telah sebagian berganti dan kini hanya tinggal segelintir orang tua saja yang masih sanggup menyertai kepulangan para anak muda ke tanah yang konon disebut tanah Perjanjian antara nenek moyang mereka dengan Tuhan.

Seorang pemuda dari antara rombongan besar bangsa itu berkata kepada yang lain, “Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Sekian lama sudah kita hidup dalam keterasingan karena perbudakan dan penjajahan bangsa asing. Maka mulai saat ini, marilah kita menyambut kemerdekaan dan kehidupan baru yang penuh perjanjian di negeri yang dulu diberikan Tuhan kepada nenek moyang kita. Mari kita membangun bersama bangsa Israel ini agar kembali menjadi bangsa yang besar!” Demikian seorang pemuda itu menyuarakan gelora hatinya. Semua orang pun menyambutnya dengan sorak sorai dan gegap gempita penuh harapan.

Namun, gayung pun tak bersambut. Kebahagiaan dan harapan yang besar tadi hanya meninggalkan semaraknya yang hampa. Betapa sedih dan terpukulnya mereka seketika tiba di tanah air para nenek moyang, yaitu tanah Kanaan yang kini sudah berganti nama menjadi kerajaan Yehuda. Impian untuk memulai hidup sejahtera di negeri makmur sebelah barat Sungai Yordan itu pun sirna. Pasalnya, negeri ini berada dalam penguasaan kerajaan Persia, kerajaan tersohor penuh kekuatan sihir dan berlaksa tentara yang gagah. Kerajaan Persia ini hampir tak tersaingi di Asia Barat Daya Kuno, kecuali oleh kerajaan kuno nan metropolis dari daratan gurun sebelah selatan, Mesir. Pantas jika kini orang-orang Israel yang baru saja kembali dari pembuangan itu kehilangan asa untuk memulai kehidupan baru.

Rasa gusar bahkan marah karena getirnya hidup yang berkepanjangan pun mulai muncul. Apalagi, kini mereka juga harus menghadapi kenyataan ditolak oleh sebagian saudara-saudara mereka sendiri (tidak semua!), yaitu para keturunan orang Israel yang dulu tidak ikut diangkut ke tanah pembuangan oleh Panglima Babilonia nan bengis, Nebuzaradan. Selain karena kedua generasi yang terpisah ruang tersebut sudah tidak lagi saling mengenal, rombongan penduduk yang baru kembali dari Babilonia ini juga dianggap sudah cemar, tidak lagi ras murni umat pilihan Tuhan karena dicurigai sudah kawin-campur dengan penduduk lokal Babilonia.
Akhirnya, dalam beberapa waktu yang cukup lama kemudian, rombongan dari Babilonia ini hidup bak imigran di tanah air sendiri.  Mereka hanya bisa melongo melihat kecurangan orang-orang fasik yang terus menindas mereka. Dalam kemarahan karena penindasan yang tidak kunjung reda itu, mereka mulai mempertanyakan kepada Tuhan tentang keadilan, “Tuhan, sebenarnya siapa yang berhak mewarisi negeri, apakah orang benar atau orang fasik? Mereka, orang Persia dan saudara-saudara kami sendiri yang menolak kami… Mengapa Engkau biarkan mereka para orang fasik itu untuk menghunus pedang dan melentur busur mereka guna merobohkan orang-orang sengsara dan orang-orang miskin, untuk membunuh orang-orang yang hidup jujur?”

Di antara rombongan dari Babilonia itu, ada seorang tokoh masyarakat yang sudah tua. Ia bukan seorang ahli pikir pemerintahan dan tidak pula turut berkuasa. Orang tua itu hanyalah seorang yang dikenal sebagai pemazmur yang bijak. Tidak mengherankan jika akhirnya dia diidentikkan dengan Daud, raja kedua Bani Israel yang hidup beratus-ratus tahun sebelumnya. Sama seperti seorang kaum papa pada zaman sekarang yang prihatin karena menyaksikan anak-cucunya tidak tahan melihat orang main kuasa dan main uang di Jakarta, sang Pemazmur Tua ini kasihan melihat orang muda pada zamannya yang begitu sakit hati melihat ketidakadilan di dalam masyarakat. Akhirnya, pemazmur ini menulis pesan kepada para pemuda tersebut demikian:

“Jangan marah, jangan iri hati, tetapi bergembiralah dan yakinlah bahwa masa depan orang-orang yang berhasil karena tipu daya akan segera berakhir, sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Sesungguhnya, orang-orang yang diberkati-Nya akan mewarisi negeri, tetapi orang-orang yang dikutuki-Nya akan dilenyapkan. TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

Tentu kita akan tersentak mendengarnya. Ya, tidak boleh marah ataupun iri hati. Sama sekali! Namun, jika memang kita harus marah, ‘marahlah’ karena telah terusiknya keadilan dan kebenaran, bukan karena nasib buruk yang kita alami akibat kelakuan mereka yang fasik.

Pesan pemazmur ini masih dapat dibaca secara lengkap oleh kita yang hidup di zaman ini dalam Mazmur 37:1-40.

0 komentar:

Posting Komentar