Jumat, 25 Oktober 2013

“Musim semi tanpa kicauan burung”, demikian tajuk yang disuarakan oleh Rachel Carson lewat Silent Spring (1962). Meski seolah sekadar mendeskripsikan suatu musim semi yang sunyi, ia sebenarnya secara dalam mengkritik manusia yang telah begitu tega meracuni alam dengan berbagai pestisida demi keuntungan pragmatis melipatkan hasil panen. Bak sambaran petir di siang hari, pesan-pesannya hadir di tengah sepinya gugatan waktu itu terhadap keangkuhan manusia yang selalu mencoba membentuk lanskap di sekitarnya, yang selalu berusaha memanipulasi sistem alami yang berjalan, semata demi kelipatan hasil. Bahkan ketika keprihatinan tentang keutuhan ciptaan belum bergema di komunitas keagaamaan, Rachel Carson sudah berani memulai ‘sendirian’ untuk menjadi corong bagi alam.

Apa yang dilakukan Carson mengarahkan pertanyaan kepada kita yang mengaku sebagai orang-orang beriman: mengapa kita harus memelihara alam ciptaan? Di sini saya tidak sedang mempertanyakan tentang sebuah ‘landasan’ agamawi, yang muaranya seringkali tidak akan jauh dari kisaran risalah-risalah dogmatis. Namun, bukan berarti saya anti dengan hal-hal yang dogmatis. Hanya, otoritas bahasa-bahasa dogmatis seringkali hadir sebagai kekuatan yang ‘memaksa’ pengikutnya untuk patuh; entah karena ia mengaku sebagai ‘hukum ilahi’ yang pantang dilanggar maupun karena ia hadir dan ingin menunjukkan kepada  manusia akan kodratnya sebagai yang harus patuh dan tunduk, tidak peduli manusia yang bersangkutan mau atau tidak, hatinya terpanggil atau tidak untuk mengikuti superioritas bahasa dogmatis tersebut. Oleh karena itu, saya di sini tidak ingin menanyakan soal ‘landasan’. Namun, saya lebih memilih menanyakan tentang ‘alasan’ yang lebih menampilkan otensitas manusia. ‘Alasan’ yang lahir dari kesadaran manusia akan alam yang telah menemaninya, menemani selama manusia itu sendiri mulai ada hingga kesudahannya.

Manusia boleh jadi tengah berkubang di dunia yang telah menjadi demikian sekuler, di mana keberadaan Sang Pencipta hanya sekadar menjadi ‘catatan kaki’ dalam orkestra kehidupan. Modernitas dengan segala bentuk optimismenya membuat kita menjadi asing dengan ungkapan-ungkapan semacam mysterium, tremendum, et fascinans terhadap Sang Pencipta. Bahwa Rudolf Otto telah dirasa berlebihan di zaman ini. Kita pun kini hanya berhubungan dengan Yang Nyata dan Tak Terbatas itu lewat hukum. Tuhan pun dapat dipaksakan ‘masuk’ dalam kerangka pemikiran modern yang determinis. Ia pun menjadi mudah ditebak karena hukuman dan pahala-Nya akhirnya pun dapat dikalkulasi. Singkatnya, ‘hukum Tuhan’ itu yang akhirnya justru menjadi tuhan (dengan ‘t’ untuk konotasi maknanya yang profan dan temporal). Makin surplus ayat seseorang, makin dianggap menguasai ‘hukum Tuhan’ dan dilihat sebagai yang paling saleh.

Gugatan di atas hanyalah ingin menunjukkan bagaimana Tuhan yang transpersona dan tak-terbatas itu telah ‘direduksi’ menjadi begitu persona dan determinis. Jika Tuhan saja mampu ‘dibegitukan’ oleh manusia, lalu apalagi dengan alam dan ciptaan lainnya yang faktual memang hampir mampu ‘dikendalikan’ oleh manusia. Manusia tidak akan mampu lagi melihat adanya inherent value yang ada dalam setiap ciptaan, bahwa masing-masing ciptaan mempunyai nilainya sendiri yang ada dalam dirinya. Alam dan ciptaan lainnya pun akhirnya dilhat hanya membawa bekal instrumental value dari Tuhan, yang mana manusia dapat berbuat apa saja terhadap mereka. Logika dominasi pun termanifestasikan dalam chauvinisme spesies, bahwa hanya manusia satu-satunya yang layak menyandang inherent value dalam dirinya.

Inherent value setiap ciptaan, terma yang rasanya memang masih asing di telinga kita. Namun, agaknya kita perlu meneladani para leluhur yang seringkali justru oleh manusia modern seperti kita ini dianggap kuno. Bagaimana para leluhur memandang air, misalnya, sebagai yang mampu menjembatani antara yang sakral dan profan, entah dalam rangka ‘memurnikan’ seseorang dari kecemaran, inisiasi dalam memasuki fase kehidupan baru, ataupun dalam memohon kesembuhan melalui ritual tertentu, seolah menampakkan secara tersirat bahwa mereka mampu melihat inherent value yang ada dalam setiap elemen alam. Ada penghargaan bahwa alam dan unsur-unsur di dalamnya tidaklah sekedar sarana, tetapi sebagai yang ‘hidup dan berperan’ karena inherent value-nya. Mampukah kita yang mengaku sebagai manusia modern yang mengaku lebih beradab ini meniru jejak para leluhur tersebut?

Lalu, apakah salah jika ‘alasan’ kita untuk memelihara alam karena alam telah menjadi sahabat bagi peradaban manusia sejak awal penciptaan? Pertanyaan ini menjebak karena cenderung akan mengarahkan kita pada jawaban “tidak ada yang salah”. Menurut saya, itu adalah ‘alasan’ yang salah. Seorang pujangga Lebanon, Kahlil Gibran, pernah mengatakan dengan nada menyindir bahwa “tidak ada persahabatan yang sejati, yang ada hanyalah kepentingan”. Jika kita mencintai alam karena dia adalah sahabat baik yang telah banyak memberi manfaat melimpah bagi kita, sama saja kita terjebak dalam melihat alam hanya sebagai yang memiliki instrumental value saja. Jadinya, tidak ada persahabatan sejati yang kita bangun dengan alam. Yang ada hanyalah kepentingan, persahabatan untuk nasib yang lebih baik, dan akhirnya kita tidak beranjak dari antroposentrisme yang laten tersebut. Bersahabat dengan alam tidaklah tepat jika dibangun dengan dasar bahwa alam tersebut berjasa bagi kita. Persahabatan itu haruslah dibangun karena alam adalah alam.

Mengapa kita semua yang mengaku sebagai orang yang beriman harus memelihara alam ciptaan? Sekali lagi pertanyaan ini diajukan dan semoga kita telah menemukan paling tidak sebuah ‘alasan’ sebagai jawabannya. Alasan yang menggerakkan kita untuk segera berbenah tanpa harus menunggu hasil ramalan akhir dari tapal batas riwayat alam ini. Berbenah tidak hanya dalam sikap, tetapi juga dalam kesadaran bahwa manusia hanyalah satu dari sekian banyak galur kehidupan yang ada. Dan semoga, tidak ada lagi silent spring karena alam ini akhirnya mau bersenandung dan bercengkerama lagi dengan kita.

0 komentar:

Posting Komentar