Mungkin itulah sebabnya dalam salah satu Kitab Ibrani, diceritakan bahwa seorang Musa harus menghadap Tuhan demi meredakan murka-Nya terhadap umat Israel yang telah membuat patung anak lembu emas. Aturan pun seakan ingin ditegaskan kembali: Yang Nyata tetapi juga Yang Misterius itu tidak boleh dibekukan dalam wujud apapun.
Apalah arti sebuah patung anak lembu? Setelah berhari-hari lamanya ditinggal oleh Musa ke Gunung Sinai, mantan budak-budak Mesir yang masih guyah hatinya itu pun mulai gusar. Rasanya bukan bermaksud menghadirkan sesembahan lain, tetapi memang ada kebutuhan tak terelakkan dalam diri umat: kebutuhan akan adanya kehadiran yang kasat mata dari seorang pemimpin, penuntun, penggembala di tengah tandus dan ganasnya perjalanan. Akhirnya, patung anak lembu emas pun dijadikan pengejawantahan dari kebutuhan ini. Kesadaran akan sejarah keselamatan oleh Tuhan pun diletakkan di patung tersebut. Akan tetapi, justru hanya murka Tuhan pada akhirnya yang mereka tuai.
Ada pesan yang lebih mendalam dari sekedar pengajaran maupun pewarisan tradisi anikonik atau ikonoklastik. Bagaimanapun juga, ada lakon lain di dalam Kitab Ibrani ini, dimana Tabut Allah ternyata diperbolehkan begitu saja untuk dinilai sebagai wujud kehadiran Tuhan (I Sam 4:3) bahkan dipercaya dapat memberi kemenangan saat dibawa dalam perang. Bukan kontradiktif, tetapi justru pesan yang dimaksud kini menjadi jelas: pemahaman tentang Allah tidak boleh dibekukan, menjadi kemandegan ide seumpama patung anak lembu emas atau monumen apapun yang hanya membujur kaku; ia harus seumpama Tabut, yang sekalipun hadir dan operasional di tengah umat, tetapi tetap tertutup rapat menyisakan misteri dan rasa penasaran tentang rupa di dalamnya.
Beranjak dari kisah di atas, kita tentu dapat menyaksikan sendiri bahwa riak kehidupan keagamaan dari zaman ke zaman seringkali tidaklah jauh dari sekadar upaya-upaya mengokohkan bangunan dogmatis kemudian mengukuhkannya menjadi ajaran resmi agama. Kehadiran modernitas seolah memberi momentum kepada upaya tersebut. Modernitas yang terus-menerus melantunkan nada-nada keserbapastian dan grand-narrative akan segala sesuatu, seolah mengabsahkan pandangan bahwa agama berikut ajarannya tentang Tuhan pun harus demikian. Selayaknya modernitas yang membuat orang menjadi begitu berhasrat menyalin bumi yang rumit ini ke dalam topografi yang terukur sebagai arsip hitam di atas putih, orang-orang beragama pun gemar meringkas Tuhan yang penuh misteri itu ke dalam bahasa-bahasa dogmatis yang kaku, melabelinya sebagai finalitas, dan menyuarakan secara jumawa (khususnya kepada pemeluk agama lain) seolah cadar misteri tentang-Nya sudah tersingkap seuntuhnya lewat bahasa-bahasa dogma tersebut.
Beruntung sejarah bergerak menuju kepada posmodernisme, dimana narasi-agung gempa dan narasi-kecil yang heterogen mulai bermunculan ke permukaan bumi. Barangkali ketika Jean-François Lyotard mempopulerkan istilah posmodernisme, ia tidak memasukkan agama sebagai kawasan yang bisa ikut terkena imbas dari alam pemikiran yang baru tersebut. Namun, sekarang banyak orang beragama mulai sadar bahwa Yang Nyata sekaligus Yang Misteri itu ternyata tidak sesederhana dan sepasti yang terangkum dalam ajaran agamanya; bahwa klaim tentang dogma dan ajaran resmi sebagai kebenaran mutlak hanyalah ilusi. Banyak orang mulai tergugah kesadarannya, bahwa menjalani kehidupan iman bisa jadi tak ubahnya seperti menyusun sebuah montase dengan pernik-pernik hasil pengalaman yang bahkan bisa begitu personal. Bukan lagi catatan rapi dari buku dogma yang sepihak berbicara, tetapi juga buku kehidupan yang isinya barangkali hanya serangkai corat-coret tentang hal penting dan tak penting, tertata dan tak tertata, yang ternyata terkait secara tak disangka-sangka menjadi jaringan-jaringan dan simpul-simpul iman.
Oleh karena itu, kita perlu untuk tidak hanya terus-menerus menebalkan dinding bangunan teologi kita, tetapi juga kadang melubanginya bahkan merobohkannya sebagian. Kita biarkan sejenak ia menjadi slash theology (teologi yang tersayat). Kita belajar untuk membiarkan pengenalan-pengenalan baru tentang Allah merembes ke dalamnya, sekalipun awalnya hal yang baru tersebut nampak hanya akan berujung kepada mempertanyakan citra dan andaian kita selama ini tentang-Nya. Namun, bukankah Francis Bacon pernah berkata bahwa yang terbaik dari keindahan adalah justru bagian yang tidak dapat diwadahi oleh sebentuk lukisan. Berani menyanyat teologi kita berarti berani membiarkan masuk unsur-unsur keindahan tentang Yang Misteri itu, yang selama ini mungkin tidak terwadahi dalam lukisan tentang-Nya menurut bahasa-bahasa dogma agama kita.
Jika “ya dan Amin” hanya berujung kepada kemandegan, mengapa tidak kita sayat saja? Jika “kepastian” bahasa dogmatis hanya akan membuat kita malas untuk mengenal Allah lebih mendalam, mengapa tidak kita biarkan saja iman kita tersayat agar meresapi “keresahan dan keraguan” yang justru akan menggerakkan kita untuk tanpa lelah mencari kebenaran tentang Yang Nyata sekaligus Yang Misteri itu?
Slash Theology (Sebuah Refleksi tentang Dogma)