Siapa yang tak kenal dengan amsal dari Perancis tersebut: kamu harus mengambil langkah mundur agar melompat lebih jauh? Hampir setiap kita pernah mendengarnya bahkan memberlakukannya dalam kehidupan. Namun, sulit bagi kita untuk melacak kembali cakrawala makna yang sesungguhnya dari kata-kata bijak tersebut. Kenyataannya dewasa ini ia sering dipakai sebatas sebagai solusi pragmatis atas persoalan-persoalan dalam domain ekonomi-bisnis dan atau politik: mengalah sedikit untuk memenangkan hati rekan bisnis, ‘mengerem’ sedikit suatu terobosan politis demi menunggu momentum yang tepat ––jika tidak dikatakan mengelabuhi lawan politik. Tentu saya tidak bermaksud menyalahkan pemberlakuannya yang demikian dan tidak pula ingin mengatakannya dalam tensi yang sinis. Bagaimanapun juga, setiap kita sangat mungkin secara berbeda dalam mempertemukan antara frasa ‘melangkah mundur’ dan ‘melompat lebih jauh’ dengan kenyataan hidup masing-masing.
Kalau saya boleh mengajukan penafsiran saya sendiri, ‘melangkah mundur’ adalah tindakan yang bertujuan mengambil jarak. Dengan demikian, melangkah mundur berarti memperluas jangkauan pandang sehingga memampukan pelakunya untuk mengamati apa yang ada di sekitarnya lebih jelas, mencernanya, dan akhirnya meng-ada secara lebih baik dalam kerangka ruang dan waktunya saat itu. ‘Melangkah mundur’ dapat berarti juga menginjakkan kaki kembali di tempat yang sudah ia tapaki. Dengan ‘melangkah mundur’, seseorang berusaha menghadirkan kembali suasana yang telah dialami kemudian memaknainya secara baru. Sederhananya, bagi saya, ia adalah tindakan refleksi.
Refleksi bukanlah sekadar piranti untuk melepaskan diri dari kejengahan hidup akibat kebisingan eksternal seperti tekanan kerja ataupun krisis ekonomi; tidak pula hadir sebagai reaksi atas kebisingan-kebisingan internal semacam konflik batin, luka-luka batin, ataupun obsesi. Refleksi bukanlah semata tindakan merenungkan peristiwa dengan cara maupun hasil yang membuat kita merasa nyaman. Bunda Theresa dari Calcutta memaknainya sebagai tindakan mencari wajah Tuhan dalam segala sesuatu, setiap orang, setiap tempat, dan sepanjang waktu serta melihat tanganNya dalam setiap peristiwa. Saya pun teringat akan kata-kata Thomas Moore. Sang psikolog ini pernah mengatakan bahwa intelektualitas kita memang menginginkan sebuah ringkasan makna, tetapi jiwa sebenarnya mengidamkan kedalaman refleksi. Oleh karena makna itu sendiri bentuknya selalu berlapis-lapis dan nuansanya tanpa akhir, refleksi harus dihadirkan agar jiwa kita mampu mencerap kekayaan makna itu dengan baik. Jika ‘melangkah mundur’ memampukan kita untuk ‘melompat lebih jauh’, berefleksi akan membuat kita berdaya melangkah lebih jauh ke dalam suatu makna dan melangkahkan makna itu lebih jauh lagi ke dalam jiwa dan kesadaran kita.
Oleh karena itu, melalui blog ini, saya akan mengangkat refleksi-refleksi tentang kejadian-kejadian maupun persoalan-persoalan yang seringkali kita lihat secara sambil-lalu saja karena dianggap sepele, tetapi mungkin saja sebenarnya menyiratkan makna yang mendalam. Bukan bermaksud meringkaskan makna bagi yang membacanya, tetapi biarlah refleksi-refleksi yang akan saya sampaikan menjadi ajakan untuk bersama-sama memaknai sesuatu. Refleksi-refleksi yang akan saya bagikan berangkat dari pengalaman dan kejadian sehari-hari yang ada di masyarakat maupun dari apa yang saya pelajari di perkuliahan (Fakultas Teologi UKDW). Terima kasih kepada orang-orang yang telah mendorong dan menginspirasi saya untuk berani menulis dan membagikan refleksi pribadi: (1) dosen spiritualitas saya, Pdt. Stefanus Christian Haryono, MA.CF. yang tanpa bosan selalu mendorong mahasiswa teologi untuk ‘produktif’ dalam refleksi dan kontemplasi; (2) teman-teman di Fakultas Teologi UKDW, khususnya angkatan 2007 yang telah banyak menolong saya mengembangkan pemikiran melalui diskusi-diskusi, baik di dalam maupun di luar perkualiahan.
“Do small things with great love”, demikian diungkapkan Bunda Theresa. Tulisan refleksi ini mungkin hanyalah hal kecil, tetapi jika dengan kasih yang besar, biarlah ia tetap memampukan kita bersama ‘melompat lebih jauh’ menggapai makna. Tuhan memberkati.
Kalau saya boleh mengajukan penafsiran saya sendiri, ‘melangkah mundur’ adalah tindakan yang bertujuan mengambil jarak. Dengan demikian, melangkah mundur berarti memperluas jangkauan pandang sehingga memampukan pelakunya untuk mengamati apa yang ada di sekitarnya lebih jelas, mencernanya, dan akhirnya meng-ada secara lebih baik dalam kerangka ruang dan waktunya saat itu. ‘Melangkah mundur’ dapat berarti juga menginjakkan kaki kembali di tempat yang sudah ia tapaki. Dengan ‘melangkah mundur’, seseorang berusaha menghadirkan kembali suasana yang telah dialami kemudian memaknainya secara baru. Sederhananya, bagi saya, ia adalah tindakan refleksi.
Refleksi bukanlah sekadar piranti untuk melepaskan diri dari kejengahan hidup akibat kebisingan eksternal seperti tekanan kerja ataupun krisis ekonomi; tidak pula hadir sebagai reaksi atas kebisingan-kebisingan internal semacam konflik batin, luka-luka batin, ataupun obsesi. Refleksi bukanlah semata tindakan merenungkan peristiwa dengan cara maupun hasil yang membuat kita merasa nyaman. Bunda Theresa dari Calcutta memaknainya sebagai tindakan mencari wajah Tuhan dalam segala sesuatu, setiap orang, setiap tempat, dan sepanjang waktu serta melihat tanganNya dalam setiap peristiwa. Saya pun teringat akan kata-kata Thomas Moore. Sang psikolog ini pernah mengatakan bahwa intelektualitas kita memang menginginkan sebuah ringkasan makna, tetapi jiwa sebenarnya mengidamkan kedalaman refleksi. Oleh karena makna itu sendiri bentuknya selalu berlapis-lapis dan nuansanya tanpa akhir, refleksi harus dihadirkan agar jiwa kita mampu mencerap kekayaan makna itu dengan baik. Jika ‘melangkah mundur’ memampukan kita untuk ‘melompat lebih jauh’, berefleksi akan membuat kita berdaya melangkah lebih jauh ke dalam suatu makna dan melangkahkan makna itu lebih jauh lagi ke dalam jiwa dan kesadaran kita.
Oleh karena itu, melalui blog ini, saya akan mengangkat refleksi-refleksi tentang kejadian-kejadian maupun persoalan-persoalan yang seringkali kita lihat secara sambil-lalu saja karena dianggap sepele, tetapi mungkin saja sebenarnya menyiratkan makna yang mendalam. Bukan bermaksud meringkaskan makna bagi yang membacanya, tetapi biarlah refleksi-refleksi yang akan saya sampaikan menjadi ajakan untuk bersama-sama memaknai sesuatu. Refleksi-refleksi yang akan saya bagikan berangkat dari pengalaman dan kejadian sehari-hari yang ada di masyarakat maupun dari apa yang saya pelajari di perkuliahan (Fakultas Teologi UKDW). Terima kasih kepada orang-orang yang telah mendorong dan menginspirasi saya untuk berani menulis dan membagikan refleksi pribadi: (1) dosen spiritualitas saya, Pdt. Stefanus Christian Haryono, MA.CF. yang tanpa bosan selalu mendorong mahasiswa teologi untuk ‘produktif’ dalam refleksi dan kontemplasi; (2) teman-teman di Fakultas Teologi UKDW, khususnya angkatan 2007 yang telah banyak menolong saya mengembangkan pemikiran melalui diskusi-diskusi, baik di dalam maupun di luar perkualiahan.
“Do small things with great love”, demikian diungkapkan Bunda Theresa. Tulisan refleksi ini mungkin hanyalah hal kecil, tetapi jika dengan kasih yang besar, biarlah ia tetap memampukan kita bersama ‘melompat lebih jauh’ menggapai makna. Tuhan memberkati.
Perdana : Il faut réculer pour mieux sauter!